Sejarah Kelurahan Batulicin

Sebelum perubahan status, Kelurahan Batulicin merupakan sebuah desa. Berdasarkan historis, Desa Batulicin terbentuk pada awal tahun 1900 an yang pada saat itu berlokasi di muara sungai batulicin dan dihuni oleh kelompok penduduk suku pasir yang menganut kepercayaan animisme. Kehidupan kelompok suku pasir berlangsung dengan tata cara ketradisionalannya dimana kebiasaan adat istiadat sangat mengikat. Pemerintahan pada masa itu dijabat oleh seorang kepala suku yang pelaksanaan pemerintahannya bersifat absolut, dimana kepala adat berkuasa sepenuhnya.

Pada tahun 1905 bala tentara raja sebamban dibawah pimpinan Kerajaan Pangeran Syarif Ali Putera, putera Pangeran Syarif Abdurrahman raja dari Kerajaan Pontianak yang sudah menganut agama islam berkeinginan untuk meluaskan ajaran islam didaerah batulicin. Karena perbedaan paham ini tidak dapat dihindari dimana bala tentara Kerajaan Sebamban berkomitmen untuk meluaskan ajaran islam dengan semboyan mati syahid untuk islam. Akibat komitmen ini maka kelompok suku pasir dengan terpaksa meninggalkan muara sungai batulicin karena keanimesmean mereka tidak mau ternoda oleh ajaran apapun, termasuk tidak mau dinodai oleh ajaran islam.

Hijrah suku pasir ini memberikan kemungkinan kepada Pangeran Syarif Ali untuk melaksanakan pemerintahan yang berdasarkan agama islam sebagaimana pemerintahan yang telah berjalan di sebamban. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Pangeran Syarif Ali, dan semenjak saat itu dinyatakan bahwa kerajaan islam batulicin telah berdiri dengan rajanya Pangeran Syarif Taha putera dari Pangeran Syarif Ali dengan status kerajaan batulicin masih dibawah kerajaan sebamban. Oleh sebab itu maka setiap raja yang memerintah di kerajaan islam batulicin adalah keturunan dari raja sebamban Pangeran Syarif Ali yang sampai pada pemerintahan kerajaan yang ke IV wilayah kerajaan batulicin hanyalah sekitar sungai muara batulicin.

Kemudian setelah raja yang ke V dilantik, yakni Pangeran Syarif Abbas maka wilayah kerajaan diperluas ke daerah lain dengan kepala pemerintahannya sebagai pembantu juga dilantiknya. Perluasan wilayah kerajaan ini masing-masing :

1.      Daerah Segumbang dengan kepala pemerintahan Andi Idrus

2.      Daerah Hulu Sungai Batulicin dengan kepala pemerintahan Andi Abdul Murad

3.      Daerah Serongga dengan kepala pemerintahan Andi Alwi

Kepala pemerintah dari ketiga wilayah itu merupakan 3 orang bersaudara, yang dimaksudkan untuk menghindari pertentangan antara wilayah yang satu dengan yang lainnya.

Dalam sejarah maka berdasarkan peraturan Hindia Belanda (Staasblad 1903 No. 179) terjadilah penghapusan kerajaan-kerajaan kecil, masing-masing kerajaan Pulau Laut, Kerajaan Sampanahan dan Kerajaan Sebamban. Dengan penghapusan kerajaan sebamban maka sekaligus

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan oleh Pemerintah Hindia Belanda, maka pangeran Syarif Abbas diberhentikan/dipensiunkan dari jabatan raja dengan imbalan pensiun sebesar 250 ringgit dan diangkat kembali menjadi asisten Wedana di Bakau kemudian berselisih dengan pemerintah Hindia Belanda dan akhirnya lambolong meninggalkan  daerah Bakau kearah batulicin untuk menetap didaerah Sungai Blanak yang sekarang berada diwilayah Desa Tungkaran Pangeran.

Setelah kerajaan batulicin terhapus maka oleh pemerintah Hindia Belanda diangkatlah Pua Basa sebagai kepala desa. Ini berarti bahwa batulicin telah berdiri semenjak saat itu  dan berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda.

Beberapa waktu kemudian Pua Basa meninggal dunia, dan sebagai penggantinya diangkatlah Andi Iberahim sebagai kepala desa. Pada masa jabatan Andi Iberahim, pemerintah Hindia Belanda jatuh ketangan jepang yang pada kenyataannya berpengaruh kurang baik kepada Desa Batulicin.

Hubungan antara Andi Iberahim dengan pemerintah Jepang semakin renggang akhirnya perselisihan terjadi yang membawa kearah perkelahian yang tak dapat ihindarkan lagi, yang akhirnya Andi Iberahim terpaksa meninggalkan Desa Batulicin menyingkir kearah Kersik Putih.

Dengan pindahnya Andi Iberahim maka pemerintah Jepang mengangkat Pua Kamang untuk menjadi Kepala Desa Batulicin dengan imbalan yang cukup memadai sehingga masyarakat menilainya adalah seorang lurah.

Pada masa Pua Kamang sebagai Kepala Desa terjadi lagi pergantian kekuasaan dari Jepang kepada Nica yang ternyata sangat berpengaruh terhadap Desa Batulicin, terlebih-lebih pada saat iti TKR/BKR juga bermarkas di Desa Batulicin di bawah pimpinan Andi Thaha. Pergantian pemerintah kepada NICA berarti Pua Kamang sudah menjadi Kepala Desa Batulicin diawali Republik Indonesia.

Berikut susunan Kepala Desa dan kepala Pemerintah Batulicin sejak tahun 1901 s/d 1987 :

1.      Kepala suku pasir  Pangeran Batu Eja

2.      Pangeran Syarif Taha sebagai raja I

3.      Pangeran Syarif Mustafa sebagai Raja II

4.      Pangeran Syarif Akhmad sebagai Raja III

5.      Pangeran Syarif Hamid sebagai Raja IV

6.      Pangeran Syarif Abbas sebagai Raja V

7.      Pua Basa sebagai Kades I dibawah pemerintah Hindia Belanda

8.      Andi Iberahim sebagai Kades II dibawah pemerintah Hindia Belanda dan Jepang

9.      Pua Kamang sebagai Kepala Desa III dibawah pemerintah Jepang dan Nica serta merupakan Kepala Desa I dibawah pemerintah Republik Indonesia

10.  Andi Saleh sebagai Kepala Desa II dalam Pemerintahan RI

11.  H. Abdul Hafid sebagai Kepala Desa III dalam pemerintahan RI

12.  Andi Segaf sebagai Kepala Desa IV dalam pemerintahan RI

13.  Andi Munawar sebagai Kepala Desa V dalam pemerintahan RI

14.  M. Aini sebagai Kepala Desa VI dalam pemerintahan RI

15.  Adrianson sebagai Kepala Desa VII

16.  Andi Syahidan sebagai Kepala Desa VIII

17.  Sake sebagai Kepala Desa IX

18.  Ambo Itang sebagai Kepala Desa X

19.  Sudirman sebagai Kepala Desa XI

20.  M. Amin Mantu sebagai Kepala Desa XII

21.  Maming sebagai Kepala Desa ( Tahun 1986 s/d 2002)

22.  Said Amrullahsebagai kepala desa ( Tahun 2002 s/d April 2008)

23.  Abdul Gafur, SE ( 5 Mei 2008 s/d terbentuknya Kelurahan Batulicin)

 

Pada saat kepemimpinan Kepala Desa Bapak Maming inilah Desa Batulicin mencapai prestasi dalam kemenangan lomba Desa Tingkat Nasional Propinsi sebagai Juara I Tahun 1987.

Baru kemudian pada tahun 2008 terjadi perubahan status dari Desa Batulicin menjadi Kelurahan Batulicin berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Tanah Bumbu Nomor 7 Tahun 2008 tentang Perubahan Status Desa Batulicin, Desa Pondok Butun di Kecamatan Batulicin dan Desa Kampung Baru, Desa Tungkaran Pangeran di Kecamatan Simpang Empat menjadi Kelurahan.

Dengan adanya perubahan status dari desa menjadi kelurahan, maka jabatan lurah dan kepala seksi di isi dari Pegawai Negeri Sipil yang pengangkatan dan penempatannya berdasarkan Surat Keputusan Bupati Tanah Bumbu. Berikut susunan urutan nama Lurah yang bertugas di Kelurahan Batulicin, antara lain :

1.      Syarwani, SE ( Tahun 2010 s/d Januari 2013)

2.      Eddy Indrajaya  ( Januari 2013 s/d sekarang)

 

Bagikan Ke :